Entah kenapa aku begitu merasa kesal saat seseorang salah menyebut namaku. Sama halnya ketika mereka justru tak mampu membedakan panggilan mana yang aku inginkan. Beberapa orang memanggilku 'mbak', tapi sebagian besar menyebut namaku setelah bunyi risih 'Buk'.
Tapi....mengingat usiaku sekarang, bukankah sebenarnya aku pantas dipanggil 'Buk' daripada dipanggil 'mbak' oleh mereka yang sebenarnya punya.....niat 'khusus'.
Yeah, aku sadar. Aku semakin tua, dari tahun ke tahun.
Tapi aku merasa lebih nyaman dipanggil 'mbak', karena aku merasa 'Buk' hanyalah title untuk wanita yang sudah menikah. Wanita seumuran aku.
Wanita-wanita sebayaku.... di usia seperti ini mungkin sudah merasakan hebohnya jatuh cinta, lalu menikah, punya suami, punya anak, mengurus, rumah, masak untuk seseorang, menunggu di rumah, lalu menyambut orang yang dicintainya, mengatur sepatunya, membuatkan teh, dan....
Ish... what the heck?
Menyebalkan.
Sebal, karena kisah hidupku tak semulus mereka yang sekarang telah memiliki pendamping. Sebal karena keluargaku selalu bertanya kapan aku akan menyusul setiap kali mengahidiri acara pernikahan.
Sebal karena....aku ternyata sudah tua dan jari manisku masih kosong.
Sebal karena bawahanku masih memanggilku 'Buk'. Hm....
Pasti menyenangkan, jika aku punya kekasih. Tapi, jika seandainya aku punya. Akankah mereka tahan denganku?
Wanita yang tidak punya perasaan dan perhatian, bahkan untuk dirinya sendiri. Mengerikan....
Di situasi seperti sekarang ini, mungkinkah aku mampu membagi waktuku untuk mereka?
Kurasa hasilnya akan nihil.
Lalu, situasi yang seperti apa yang sebenarnya aku inginkan dimana bunyi 'Buk' sebelum namaku tak lagi terdengar menyebalkan di telingaku.
...stupid!
Tapi....mengingat usiaku sekarang, bukankah sebenarnya aku pantas dipanggil 'Buk' daripada dipanggil 'mbak' oleh mereka yang sebenarnya punya.....niat 'khusus'.
Yeah, aku sadar. Aku semakin tua, dari tahun ke tahun.
Tapi aku merasa lebih nyaman dipanggil 'mbak', karena aku merasa 'Buk' hanyalah title untuk wanita yang sudah menikah. Wanita seumuran aku.
Wanita-wanita sebayaku.... di usia seperti ini mungkin sudah merasakan hebohnya jatuh cinta, lalu menikah, punya suami, punya anak, mengurus, rumah, masak untuk seseorang, menunggu di rumah, lalu menyambut orang yang dicintainya, mengatur sepatunya, membuatkan teh, dan....
Ish... what the heck?
Menyebalkan.
Sebal, karena kisah hidupku tak semulus mereka yang sekarang telah memiliki pendamping. Sebal karena keluargaku selalu bertanya kapan aku akan menyusul setiap kali mengahidiri acara pernikahan.
Sebal karena....aku ternyata sudah tua dan jari manisku masih kosong.
Sebal karena bawahanku masih memanggilku 'Buk'. Hm....
Pasti menyenangkan, jika aku punya kekasih. Tapi, jika seandainya aku punya. Akankah mereka tahan denganku?
Wanita yang tidak punya perasaan dan perhatian, bahkan untuk dirinya sendiri. Mengerikan....
Di situasi seperti sekarang ini, mungkinkah aku mampu membagi waktuku untuk mereka?
Kurasa hasilnya akan nihil.
Lalu, situasi yang seperti apa yang sebenarnya aku inginkan dimana bunyi 'Buk' sebelum namaku tak lagi terdengar menyebalkan di telingaku.
...stupid!